Wartainsumsel.com | Palembang, – Aku berdiri di ambang pintu yang remang, bukan sebagai pemberi yang merasa di atas, melainkan sebagai musafir yang pernah tersesat di padang lapar yang sama.
Ada sebuah luka yang tak pernah benar-benar kering dalam ingatanku. Sebuah simfoni pilu ketika alarm token listrik menjerit-jerit di sudut ruangan, membelah sunyi malam dengan ancaman kegelapan. Di saat yang bersamaan, sebuah tangan mungil menarik ujung bajuku, memohon sekadar kudapan kecil dengan binar mata yang tak mengerti bahwa di kantongku hanya tersisa kehampaan.
*Detik itu, hatiku bukan lagi sekadar patah, ia lebur.*
Aku berbagi hari ini bukan karena peti hartaku meluap. Aku berbagi karena aku adalah saksi hidup betapa sesaknya bernapas dalam himpitan “tidak ada”. Aku tahu rasanya membasuh muka agar air mata tak terlihat oleh anak istri, sembari memutar otak bagaimana esok harus bermula.
Sebab itu, di setiap receh yang kupindah-tangankan, di setiap suap yang kubagi, aku merapal sebuah ajimat sakti. *Sebuah mantra* yang kini menjadi napas bagi perjuanganku di *Forum Masyarakat Berdaya*:
*”Panjang Umur Hal-Hal Baik.”*
Kata-kata itu bukan sekadar kalimat indah. Ia adalah tameng saat aku ragu, ia adalah kompas saat aku sendiri sedang layu. Aku percaya, ketika kita berani berbagi di tengah kekurangan, kita sedang menanam cahaya di tengah badai. Kita sedang memaksa dunia untuk tetap hangat, meski musim sedang dingin-dinginnya.
*Namun, ketahuilah satu rahasia kecil ini…*
Terkadang, saat aku memberikan sisa uang terakhirku kepada mereka yang membutuhkan, aku harus pulang dengan langkah kaki yang berat. Aku pulang menuju rumah yang mungkin masih akan gelap, menemui anakku yang mungkin permintaannya belum bisa kuturuti sepenuhnya.
Aku memberikan “keajaiban” bagi orang lain, sembari menahan tangis karena tak mampu menjadi “keajaiban” bagi anak kandungku sendiri di hari itu. Aku membasuh luka dunia, sementara lukaku sendiri masih berdarah-darah di balik baju yang kusam.
Tapi aku tetap tegak. Karena bagiku, lebih baik aku yang menahan perih ini sendirian, daripada harus melihat dunia kehilangan satu lagi harapan. Biarlah tangisku menjadi sunyi, asal senyum mereka tetap abadi.
Sebab dalam setiap tarikan napas yang sesak, aku hanya punya satu pegangan.
*Panjang Umur Hal-Hal Baik.*
Meski ia harus lahir dari air mata yang aku usap sendiri dalam diam
Oleh : Ki Edi Susilo
Founder Forum Masyarakat Berdaya












