Wartainsumsel.com | Banyuasin,- Habiskan anggaran ratusan juta, kondisi Rumah Sakit Sukajadi di Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan dinilai masih terbilang memprihatinkan. Sejumlah bagian gedung rumah sakit tersebut dilaporkan mengalami kerusakan, meskipun telah dilakukan rehabilitasi sebelumnya.

Kondisi ini menuai sorotan karena bangunan rumah sakit yang berdiri sejak 2019 itu masih belum memberikan kenyamanan optimal bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat yang berobat.

Salah seorang pegawai rumah sakit yang enggan disebutkan namanya mengaku prihatin dengan keadaan gedung saat ini. Ia menyebut, kebocoran pada bagian atap masih sering terjadi ketika musim hujan tiba.

Menurutnya, air yang menetes dari bagian atas gedung menjadi persoalan serius karena berpotensi membahayakan keselamatan pegawai yang bekerja setiap hari di lokasi tersebut.
“Ya beginilah pak kondisinya, padahal flavon sudah diganti tapi masih ada air yang menetes dari bagian atas. Padahal sudah direhab,” ujarnya.
Pegawai lainnya menambahkan, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kenyamanan kerja, tetapi juga menimbulkan rasa khawatir. Beberapa bagian plafon atau flavon disebut sudah rapuh akibat terus-menerus terkena air.
Meski demikian, para pegawai tetap berupaya memberikan pelayanan kesehatan secara maksimal kepada masyarakat yang datang berobat ke rumah sakit tersebut.
“Alhamdulillah kalau kamar pasien tidak ada yang mengalami bocor air, hanya kami yang bekerja di sini merasa tidak nyaman dan was-was karena ada flavon yang sudah rapuh akhirnya jatuh ke lantai,” katanya.
Menanggapi keluhan itu, Direktur RSUD Sukajadi, dr. Betania, membenarkan bahwa kondisi gedung memang masih memerlukan banyak perbaikan. Ia mengakui kebocoran atap menjadi persoalan utama yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi.
Menurutnya, rehabilitasi telah dilakukan, namun pada saat intensitas hujan tinggi, kebocoran masih ditemukan di beberapa titik bangunan.
“Sudah dilakukan perbaikan, kami juga masih berkoordinasi dengan pihak pemborong agar kembali memeriksa dan memperbaiki bagian yang masih bocor,” ujar dr. Betania saat ditemui, Selasa (16/12/2025).
Ia menambahkan, pihak manajemen rumah sakit terus melakukan evaluasi agar kondisi gedung dapat segera diperbaiki demi menunjang pelayanan kesehatan yang aman dan nyaman.
Sementara itu, aktivis Banyuasin, Sepriadi Pratama, menyayangkan kondisi rumah sakit yang dinilai tidak sebanding dengan anggaran yang telah digelontorkan. Ia menilai hasil rehabilitasi belum menunjukkan perbaikan signifikan.
Menurutnya, anggaran ratusan juta rupiah seharusnya mampu menyelesaikan persoalan mendasar seperti kebocoran atap dan kerusakan fisik bangunan.
Ia juga menyoroti cat gedung yang terlihat kusam, papan nama yang rusak, hingga sejumlah flavon yang jebol dan ambruk. Selain itu, aroma tidak sedap di beberapa bagian gedung dinilai masih menjadi keluhan, itu didalamnya apalagi diluar nampak rumput liar dan cat yang berlumut.
“Dengan anggaran hampir 600 juta untuk memperbaiki atap bocor saja tidak cukup, apa yang sebenarnya salah,” ujarnya.
(Adp)












